Jumat, 11 November 2016

Yang Sudah Berlalu Tak Perlu Disesali

Suatu ketika, ada seorang pemuda yang mendapat warisan dari orangtuanya. Karena tergolong keluarga sederhana, ia hanya mendapat sedikit uang dan beberapa buah buku. Sebelum meninggal, ayahnya berpesan, “Anakku, buku-buku ini adalah harta yang tak terhingga nilainya. Ayah berikan kepadamu, baca dan pelajarilah. Mudah-mudahan kelak  nasibmu bisa berubah lebih baik. Dan ini sedikit uang, pakailah untuk menyambung hidup dan bekerjalah dengan rajin untuk menghidupi dirimu sendiri.”
Tak berapa lama, uang yang ditinggalkan pun habis terpakai. Sejenak ia melongok buku-buku peninggalan ayahnya. Ia teringat pesan dari orangtuanya agar belajar dari buku tersebut. Karena malas, ia mengambil jalan pintas. Buku itu dijual kepada teman yang mau membeli karena kasihan. Sebagai gantinya, ia mendapatkan beras untuk makan sehari-hari.
Beberapa saat kemudian, si pemuda harus mulai bekerja kasar demi menyambung hidup. Yang membuatnya heran, teman yang dulu membeli bukunya, kini hidupnya kelihatan nyaman dan semakin maju. Karena penasaran ingin tahu, apa yang membuat teman tadi bisa berhasil hidupnya, dia mendatangi dan bertanya.
Meski sempat tidak mau membuka rahasia, setelah didesak dan kasihan melihat nasib si pemuda, akhirnya si teman terbuka. “Sebenarnya, aku sangat terbantu dengan buku yang kamu jual padaku. Dulu aku beli buku itu karena kasihan kepadamu. Kubiarkan saja berdebu di sudut kamar. Suatu hari, iseng karena ingin tahu, kubaca dan ternyata, wahh…isinya bagus sekali! Sebuah pelajaran hidup yang luar biasa.”
“Bukan itu saja,” sambung temannya. “Di dalam buku itu terselip pesan, agar si pembaca setelah menguasai isi buku tersebut mau praktik dengan sungguh-sungguh. Sungguh, aku beruntung aku mendapat buku itu darimu. Lihat, hidupku jadi berubah. Sebenarnya, dari mana buku-bukumu itu berasal?”
Mendengar cerita temannya itu, si pemuda sangat menyesal. Harta peninggalan ayahnya ternyata jauh lebih berharga dari yang ia kira. Karena malas membaca, kini ia hanya jadi pekerja kasar yang hidup ala kadarnya.
“Buku itu sebenarnya warisan dari orangtuaku,” jawab si pemuda. “Jujur, aku malas membacanya dan tidak tahu kalau ayahku menyimpan pesan yang sangat berharga. Sungguh, aku menyesal. Teman, boleh aku pinjam kembali buku-buku itu untuk memulai hidupku yang baru? Aku ingin bisa mengubah hidupku menjadi lebih baik.”
Demikianlah, banyak hal yang kadang tak kita mengerti dari pilihan-pilihan yang kita jalani. Sering mengundang penyesalan, seperti si pemuda tadi. Tapi bagi yang mau belajar, setiap kegagalan, setiap kesalahan pasti punya nilai pembelajaran. Maka, ada ungkapan “hal yang sudah berlalu tak perlu disesali”. Sudah sepatutnya kata-kata bijak tadi kita jadikan pegangan hidup. Jika hari ini kita gagal, kita siap bangkit lagi!
Mari, jangan sesali yang sudah berlalu, jangan pula takut pada masa depan. Kita belajar dari banyak kesalahan dan segala ketidaknyamanan, untuk mengambil pilihan yang ada pada hari ini sebagai dasar pijakan meraih keberhasilan yang lebih membanggakan. Tetap berjuang!

Selasa, 08 November 2016

Berhentilah menggeluh

Pantaskah kita mengeluh? Padahal kita telah dikaruniai sepasang lengan yang kuat untuk mengubah dunia.
Layakkah kita berkeluh kesah? Padahal kita telah dianugerahi kecerdasan yang memungkinkan kita untuk membenahi segala sesuatunya.
Apakah kita bermaksud untuk menyia-nyiakan semuanya itu? lantas menyingkirkan beban dan tanggung jawab kita?
Janganlah kekuatan yang ada pada diri kita, terjungkal karena kita berkeluh kesah. Ayo tegarkan hati kita. Tegakkan bahu. Jangan biarkan semangat hilang hanya karena kita tidak tahu jawaban dari masalah kita tersebut.
Jangan biarkan kelelahan menghujamkan keunggulan kita. Ambillah sebuah nafas dalam-dalam. Tenangkan semua alam raya yang ada dalam benak kita. Lalu temukan lagi secercah cahaya dibalik awan mendung. Dan mulailah ambil langkah baru.
Sesungguhnya, ada orang yang lebih berhak mengeluh dibanding kita. Sayangnya suara mereka parau tak terdengar, karena mereka tak sempat lagi untuk mengeluh.
Beban kehidupan yang berat lebih suka mereka jalani daripada mereka sesali.

Kamis, 05 Mei 2016

santri baruku di blok agung




  Pada tanggal 31 july 2015, aku mondok di pondok pesantrn Darussalam.  Blokagung  kec. Tegalsari Banyuwangi. Aku berangkat dari bali sekitar pukul 09.00 pgi dan tiba di blokagung sekitar pukul 16.00 ba’da ashar, kemudian aku mengikuti pendaftaran sekolah kurikulum, aku memutuskan sekolah di madrah aliyah al amiriyyah dan aku mengambil jurusan ips dan aku masuk di kelas10 ips 1, dan aku juga bersekolah di madrasah diniyah al amiriyyah tingkat ula kelas 1 bagian I musthiq ustad walid ikromullah.  Asrama yang ku tepati asrama al barokah kamar P-02.
Awal-awal aku mondok ketika statusku masih santri baru, aku sempat kaget karna kehidupan di pondok berbeda jauh sama kehidupan ku yang dirumah, ‘’YAJELASLAH’’ namanya aja dipondok! Pondok itu baguku tempatnya orang tirakat, dan aku sangat bersyukur karna ku bisa mondok disini, karna ku bisa mendalami ilmu agama dan belajar mempunyai akhlak yang baik . walaupun aku gak kerasan  tapi ku kerasan-kerasanin, dari pada aku boyong, pasti yang rugi aku sendiri, bukanya membanggakan kedua ortu  yang ada malah nyusain orang tua.. mulai sekarang aku ingin berfikiran lebih dewasa lagi, berfikir yang positif,menjauhi sifat kekanak kanakan dan menjauhi kebiasan buruk ku.
Dari pada aku bikin pusing lebih baik aku jalani aja semua aktivitas yang ada pondok ini, pondok yang ku tempati ini pondok terbesar di kab. Banyuwangi yang memiliki santri kurang lebih 5.000 santri putra dan putri. Santri blokagung ini santrinya diwajibkan santrinya sholat berjamaah di masjid, menggikuti semua kegiatan baik ba’da shubuh,dhuhur,ashar,magrib, isyak dan mentaati qonoun-qonoun ponpes Darussalam . Aku merasa males dengan adanya kegiatan yg padat seperti itu, apalagi ketika barang-barang yang ku punya banyak kehilangan, itu hal yang paling menjengkelkan bagi ku tapi disinilah ku belajar sabar, tapi lama kelamaan ku sudah mulai mengerti bahwa kehidupn di pondok memanglah seperti ini, walaupun barang-barang ku banyak yang hilang ,makan di ko-kosan gak enak,mandi harus ngantri,gudikan,kadasan,tengah malam kudu sholat tahajud,pagi kudu shlat dhuha,tidur bermodal selimut dan selimut pun beralih fungsi menjadi alas tidur, tapi ku jalani itu semua dengan sabar dan tabah..
Jujur ketika aku masih santri baru,aku pernah nangis di pondok ketika sholat magrib berjamaah, mungkin salah satu penyebabnya adalah factor ketidak kerasanan dan rasa menyesal apa yang telah aku perbuat sebelumnya yang sering melakukan kebiasaan buruk. Pada waktu itu aku sholat berjamaah di shof paling depan, ketika aku sholat berjamaah pikiran ku selalu memikirkan keadaan kedua orang tua ku yang da drumah sambil menangis aku kepikiran waktu aku jahat kepada kedua orang tua ku, aku sangat menyesal sikap ku yang seperti itu kepada kedua orang tua..entah apa yang ada di benak ku? Sehingga aku beraninya melakukan tindakan yang seperti itu, tanpa aku sadari bahwa tindakan yang menimbulkan dosa besar dan sekarang aku mulai sadar, aku ingin mengubahsemua kebiasaan-kebiasaan buruk ku, baik itu dalampikiran  perkataan dan perbuatan dan aku ingin mengubah semuanya menjadi kebiasaan yang baik.